Review Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng by Jostein Gaarder

Putri Sirkus Dan Lelaki Penjual Dongeng

Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
Halaman: 264 hlm
ISBN: 9789794338872

SPOILER ALERT!


Sinopsis


Sejak kecil, Petter lebih suka menyendiri di dalam dunia yang dia ciptakan. Dia terobsesi dengan cerita-cerita, terutama dengan Panina Manina, sang Putri Sirkus yang dikarangnya sendiri. Hingga dewasa pun, imajinasinya terus merajalela. Tak heran dia dijuluki Petter “si Laba-Laba”.

Tetapi, Petter membenci ketenaran dan tak mau memublikasikan tulisannya. Dia memilih menciptakan Writers’ Aid, sebuah program yang didesain untuk menyediakan cerita-cerita bagi pengarang-pengarang internasional yang mengalami kebuntuan ide.

Meskipun programnya ini pada awalnya sangat sukses, Petter akhirnya terjebak dalam jaring yang ditenunnya sendiri. Skandal memalukan dalam dunia sastra internasional perlahan-lahan terkuak dan nyawa Petter terancam oleh pengarang-pengarang besar yang ingin menyelamatkan nama baik mereka. Tak disangka, kehancuran Petter ternyata bersumber dari perbuatannya masa lalu. 

Novel ini akan mempertemukan Anda dengan Petter “si Laba-Laba”, tokoh ciptaan Gaarder yang paling membuat penasaran setelah Sophie dari Dunia Sophie.


Jostein Gaarder adalah salah satu Novelis terbaik menurutku dengan ide cerita yang sangat menarik, yakni: Filsafat. Dikenal melalui Dunia Shopie yang menjadi buku fiksi terlaris di dunia pada 1995 dan akan aku review juga loh nanti. Hehe.

Setiap tulisan Gaarder merupakan mahakarya karena selalu berhasil memberikan bacaan yang bermutu. Begitu pula dengan novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini. Novel ini adalah salah satu karyanya yang jika disingkat akan mengisahkan tentang Petter yang memiliki imajinasi “liar” dan terobsesi dengan cerita-cerita. Namun, ia tidak menyukai ketenaran sehingga ia memutuskan untuk menjual dan memberikan hasil karya-karyanya kepada penulis lain yang mengalami kebuntuan ide. Banyak karyanya yang menjadi terkenal dan sukses, namun atas nama penulis lainnya. Hal ini kemudian memunculkan skandal dalam dunia sastra internasional.

Putri Sirkus sendiri merupakan salah satu dongeng yang paling disukai oleh Petter. Putri Sirkus tersebut bernama Panina Manina. Yang mana dongeng inilah yang mempertemukannya kembali ke masa lalu serta mengubah jalan hidupnya.

Dalam buku-buku Gardeer sebelum judul ini terbit, nilai-nilai filsafat masih sangat kental. Sebut saja Dunia Shopie dan Dunia Anna. Namun untuk kisah Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini, unsur filsafat tidak melekat dan nyaris sulit ditemukan. Sebuah hal baru bagi aku saat ngebaca buku Gardeer yang image filsafat-nya melekat dalam pikiranku.

Hal yang menarik dari novel ini adalah bagaimana terdapat banyak kisah-kisah lainnya dalam sebuah kisah. “Anak-anak cerita”. Kisah-kisah ini pun tak kalah menarik dan akan sangat bagus jika dijadikan novel tersendiri. Namun hal ini menjadikan kekurangan novel ini dimana pada beberapa “anak cerita”, dapat memakan berlembar-lembar halaman dan membuat kesan yang membingungankan. Aku bahkan sempat merasa bosan pada saat membacanya dan tergoda untuk melangkaui beberapa halaman.

Pada akhirnya, karya Gardeer memang sangat bermutu dan aku rekomendasikannya tentu saja. Namun untuk kali ini, terlepas dari pujian tersebut, aku pribadi hanya bisa memberikan rating 3,5/5 untuk karya ini. Terima kasih.

This entry was posted in Review.

Leave a Reply